Warga Berharap Konfercab Mengahasilkan: NU Mandiri & Tidak Dikendalikan Penguasa

Menurut warga NU yang juga alumni Pesantren Tebu Ireng, Jombang ini, pengalaman tidak baik, NU Sidoarjo yang dikendalikan penguasa itu kini sudah saatnya untuk dihentikan. “Dengan adanya campur tangan para Camat ini, sudah mengindikasikan kuat bahwa penguasa di Sidoarjo ini bakal melakukan intervensi dan ingin mengendalikan NU Sidoarjo lagi. Yang demikian itu sudah saatnya untuk dihentikan,” ujar Mamad dengan nada prihatin.
Marwah NU ini, lanjut Mamad, dipertaruhkan dalam Konfercab NU Sidoarjo ini. “Tidak menarik kalau Ketua NU atau Kiai itu dipanggil Camat untuk mengumpulkan Ketua-Ketua Ranting, untuk diberi arahan agar memilih calon Ketua PCNU tertentu. Kita (NU Sidoarjo) sudah punya pengalaman bagaimana NU itu dikendalikan pengusaha dan tidak punya kemandirian. Pengalaman yang tidak baik itu jangan sampai terulang kembali,” tegas Mamad.
Sebuah fakta yang tidak bisa dibantah, lanjut Mamad, keberadaan Kantor PCNU berdiri satu atap dengan Kantor PKB, meskipun itu sebagai saluran aspirasi politik warga NU, tapi kalau kantornya NU dengan Kantor Partai Politik satu atap, itu adalah fakta ketidak mandirian.
Menurut sampean, apa bahayanya jika NU itu dikendalikan kekuasaan? “Kalau NU itu dikendalikan kekuasaan, karena kekuasaan itu erat kaitannya dengan kepentingan politik, maka kemandirian NU itu akan dipertanyakan. Kan tidak mungkin bicara hal-hal yang bersifat Ubudiyah misalkan, harus menunggu instruksi dulu dari kekuasaan. Sedangkan NU itu mestinya netral dan mandiri. NU itu mestinya harus mengayomi semua, bukan melindungi salah satu kelompok di NU yang sedang berkuasa,” terang Mamad.
Mamad menambahkan, kaitannya dengan maraknya “Sedekah politik” jelang Konfercab, itu harus diluruskan, utamanya kepada Ranting- Ranting NU. Antara sedekah dan riswah, itu harus dimaknai berbedah. “Kalau bahasanya Gus Baha, itu membeli kebenaran. Dalam kontek ini, itu hal yang berbeda. Semua kompetitor disini adalah kader NU. Harus dimaknai semuanya orang baik. Hanya saja yang satu dalam kendali kekuasaan. Siapa yang bisa mengendalikan yang paling benar bahwa calonnya si A atau si B adalah yang paling benar, dan karena itu harus “dibeli kebenarannya” supaya mendapatkan kemenangan dalam Konfercab. Tidak bisa seperti itu. Itu adalah kontek yang berbeda,” ujar Mamad.
“Konfrensi NU itu tidak hanya sekedar memilih ketua PCNU. Konfrensi NU harus kita maknai bagaimana membangun Marwah NU agar mandiri. Kalau soal siapa yang mencalonkan diri, siapa saja punya hak untuk mencalonkan diri sebagai Ketua PCNU. Nah yang perlu kita bangun adalah, bagaimana kita bisa tetap menjaga Marwah NU. Bagaimana supaya Umara yang datang ulama. Bukan malah sebaliknya, ulama yang dipanggil untuk mendatangi Umara. Nah ini yang harus kita luruskan hari ini,” jelas Mamad.
Karena itu, Mamad menegaskan, Konfrensi NU seharusnya menghasilkan sesuatu yang baik, yang bisa menjawab tantangan jaman. “Jadi Konfrensi itu harus bisa menghasilkan sesuatu yang bisa menjawab tantangan jaman. Bukan untuk menjawab kebutuhan kekuasaan. Itu harus diluruskan,” sergah Mamad. (mnr).
Tinggalkan Balasan